Wednesday, August 25, 2010

manis pahit realita

realita itu sesuatu yang gak bisa kita hindari
udah jadi takdirnya kita buat ngejalani itu semua
tapi realita itu gak selamanya manis, gak selamanya pahit
kayak roda, muterrr


kehidupan awalku saat menginjak SMA sangat MENYENANGKAN
dapet pacar, smangat sekola, rajin belajar, ulangan dapet nilai bagus
tapi lama-lama
realitanya, hidup di SMA itu MEMBOSANKAN
nah, ini sifat dasar manusia, cepet bosen
wajar.. manusiawi kok


lanjut, setengah taun di SMA, aku udah bikin banyak masalah
wajarlah, anak SMA men, gak SMA namanya kalo gak bikin MASALAH
tapi.. sisa tahun perdanaku ini tak habiskan dengan jogging pagi (yah, maklum, tuntutan profesi)
walopun belum maksimal, setidaknya kami HEBAT, itu juga berkat pelatih kami, ce Melly


next, taun keduaku di SMA, jadi kakak seniornya anak baru
aku berdiri di puncak, di atas roda yang menindas anak-anak baru HAHAHA
gak lama, realita itu pudar seiring berjalannya waktu
babak baru di SMAku baru mulai, dimulai dengan masalah lagi
lagi? yah, baru aja menginjak kelas IPA udah bikin masalah
masalahnya sepele, cuma karena perbedaan IDEOLOGI
tapi, dari masalah itu aku belajar caranya mempertahankan PENDAPAT
anak SMA zaman sekarang itu harus kritis, jangan mau dibodohi zaman, apalagi dibodohin guru


nah, yang ini yang bikin aku gak berdaya
puncak kejayaanku sirna sudah
aku harus lengser dari tim basket demi yaahh bisa dibilang regenerasi pemain
tapi gak nyangka karena hal ini bisa membuat mimpiku berakhir
diimajinasiku, aku masuk tim basket, taun depan main, ikut e-club, ikut lomba story telling lagi trus MEMBUNGKAM guru-guru dengan PRESTASI
tapi ternyata, aku harus mengalah
RODAku lagi berputar kebawah
tapi muternya di jalanan yang banyak batunya
jadi gak nanggung-nanggung sakitnya


itu namanya REALITA
kadang manis kadang pahit
harus diterima, tentunya dengan otak yang jernih
karena hanya orang berotak jernihlah yang sanggup berpikir, berdiri, trus muter rodanya supaya naik lagi

Saturday, August 21, 2010

seonggok monster berharga

lima, enam, tujuh, delapan.
delapan bulan sudah saya hidup dengan dia.
delapan kali sudah saya hampir mati karena dia.
delapan kali pula saya bertahan hidup karena dia.
dia, bukan siapa siapa bagi orang lain, tapi bagi saya, dia adalah segalanya.
dianggep papa bisa, dianggep pacar bisa, dianggep temen bisa, dianggep kakak juga bisa.
ntah apa yang membuat saya terikat.
dibilang ganteng juga gak terlalu, dibilang pinter juga gak terlalu, dibilang keren juga gak terlalu.
gak ada alesannya saya bisa terikat.
tapi hari ini, detik ini, saya semakin menyadari apa yang bisa membuat saya terikat.
matanya yang beda 0,05cm. (bukan termasuk alesan sih)
tapi matanya ketika menatap saya itulah yang membuat saya diam dan berkata pada Tuhan
'Tuhan, tolong jaga monster ini, jaga dia supaya gak dirubung laler, karena aku sangat sayang dia'
matanya ketika menasehati, seperti mata seorang ayah yang menasehati anaknya.
matanya ketika bahagia, seperti mata anak kecil yang ngeliat badut. (tapi kebanyakan kok anak kecil pada takut badut ya?)
matanya ketika melihat saya, seperti seonggok monster lagi jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
matanya juga mengajarkan sesuatu, kedewasaan.
saya belajar banyak hal dari matanya.
hari ini, sekali lagi kami mampu melewati sebuah labirin baru.
labirin yang bisa membuat saya seperti "biri biri labil", tapi saya mampu bertahan karena matanya.
matanya memberi saya cinta, keyakinan, kedewasaan, pendirian, dan kekuatan.
ntah mata atau hatinya yang memberi itu semua, tapi yang mau saya tegaskan adalah, saya beruntung punya seonggok monster berharga seperti dia.
TKT (Terima Kasih Tuhan)


-mons :*