Berkaca pada diri sendiri merupakan suatu hal yg cukup sulit
kita hanya dapat melihat bayangan diri kita bukan wujud aslinya
kita hanya dapat melihat gambaran dari refleksi seseorang terhadap kita
kita tak sepenuhnya paham tentang diri kita sendiri
Kita selalu melihat orang lain, melihat label si A yg baik, si B yg jahat, si C yg sombong, si D hingga si Z dengan mudahnya
tapi diri kita sendiri?
Apakah kita benar paham terhadap sikap kita?
Tidak. Kita hanya memakai topeng yg berlabelkan 'Saya orang baik' atau 'Saya ramah kpd sesama'
Apa benar si Saya ini memang orang yg baik? Apa benar si Saya tidak sombong?
Orang lain lah yg membantu kita menelusuri sikap asli kita
Disinilah peran orang tua, peran Bapak Ibu Guru, peran sahabat, peran teman, bahkan peran org yg kita benci sekalipun digunakan
orang tua sebagai sosok yg berperan penting dalam masa pembentukan sikap seorang balita menjadi dasar untuk seseorang bersikap demikian, apa yg di terima adalah apa yg akan di terapkan nantinya.
selanjutnya peran guru di sekolah dan juga teman serta sahabat lah yg menjadi faktor lain untuk menentukan sikap seorang anak di masa sekolahnya.
faktor luar seperti lingkungan juga berpengaruh terhadap penentuan sikap seorang remaja.
Masa inilah yg menjadi masa yg penting dimana sesaat lagi si anak remaja tersebut akan menentukan masa depannya sendiri
Tapi cukup dewasakah si remaja ini untuk menentukan masa depannya?
bagaimana jika ia belum paham tentang dirinya sendiri?
bagaimana jika ia belum paham tentang label yg ia sandang?
bagaimana jika ia belum menemukan jati dirinya?
bagaimana jika ia ternyata belum cukup dewasa untuk memilih?
Saya ibarat tersadar setelah melalui perbincangan yg cukup panjang dan akhirnya berefleksi walaupun belum sepenuhnya paham.
Apa iya saya ini 'Orang yg baik'?
Apa iya saya ini 'cukup dewasa'?
Apa iya saya ini 'mandiri'?
Apa iya saya ini 'rajin'?
Saya sering meng-iya-kan pertanyaan diatas, karena saya malu mengakui kalo ternyata saya bukan.
Saya gak mau disebut Axel si Orang jahat, atau Axel si pemalas.
Saya selalu menepis pernyataan itu dari pikiran saya,
saya ternyata memang tidak cukup dewasa untuk menerima keadaan.
Saya sendiri bahkan belum paham tentang siapa saya sebenarnya,
bagaimana wujud Axel yg seharusnya saya bentuk,
apakah seperti ini Axel yg seharusnya, apakah cukup seperti ini saja?
17 tahun saya hidup di dunia, baru kali ini saya ngerasa kosong.
gak berisi apapun, bahkan mungkin kalo di ilustrasikan saya ini ibarat seonggok daging yg berjalan tanpa otak, tanpa hati, tanpa perasaan.
Saya merasa apa yg keluar dari mulut saya hanya sekedar sajak manis tentang bagaimana seseorang layaknya hidup, tapi apa saya sudah menjalankan apa yg saya katakan?
Saya rasa persentase jawaban 'ya, sudah' ini sangat amat minimalis
Jadi intinya 17 tahun ini sudah saya isi dengan bualan, lelucon, gurauan.
saya bahkan tak mampu menertawakan hidup saya sekarang.
Saya menyuruh si A untuk bersikap baik kepada sesama, tapi saya sendiri belum.
Saya menyuruh si B untuk rajin belajar, padahal saya sendiri malas.
Saya malu!
Saya merasa saya ini seperti burung yg hanya berkicau mengikuti jaman.
Sekarang jamannya siswa siswi kelas 12 sibuk belajar untuk mengejar cita-cita maka saya pun melancarkan aksi burung berkicau tadi tanpa melihat kedalam diri saya terlebih dahulu.
Apa yg harus saya lakukan?
Saya teringat pada kata-kata Pak Wiwid
pertama, 'akui kalau kamu memang salah', dan memang butuh cukup keberanian untuk mengacungkan jari dan mengakui, tapi orang hebat adalah orang yg mampu mengakui kesalahannya bukan?
kedua, 'no hurt feeling', dan jika ada diantara kalian yg merasa terluka atas perlakuan saya, saya minta maaf, marilah kita berdamai, berdamai dengan diri sendiri dan dengan sesama
ketiga, 'shut up and move on!' dan saya tidak akan lagi berkicau untuk hal bodoh semacam tadi, cukup malunya sampe disini, saatnya bangkit dari kemerosotan moral
Semua ini saya landaskan pada kecintaan pada diri sendiri-bukan bentuk narsisme tapi lebih kepada penghargaan terhadap diri sendiri
'karena saya cinta diri saya sendiri, saya mau diri saya berharga di mata orang maka saya harus menjadi pribadi yg layak untuk dihargai'.
No comments:
Post a Comment