lebih banyak lagi pensil yang tumpul
lebih banyak lagi yang harus diraut
lebih banyak lagi sampah pensil
lebih banyak lagi penghapus yang menyusut
mengapa tidak berganti ke pulpen yang jauh lebih praktis?
tidak, karena pulpen tak tau artinya perjuangan, rasa sakit saat diraut
pulpen pun tak punya sahabat yang selalu ada untuk menghapus air matanya
saat ini saya sedang diraut lagi, agar menjadi tajam
dan proses ini tidak kilat, tidak mudah, tidak enak
sakit, lagi
saya butuh sahabat saya si penghapus yg biasanya menghapus airmata ini
bukan menciptakannya
kemana penghapus yang lama?
mungkin dia lelah, mungkin dia marah, mungkin dia pergi gak kembali
maaf
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete